Kenapa ada Perpuluhan itu? Simak pencerahan dari Bapak Pdt HI Saragih
Pada hari jumat 31 Juli 2015,
Redaksi GKPS Surabaya seyogyanya berhasil mewawancarai dua orang narasumber ,
namun untuk profil minggu ini redaksi menampilkan dulu hasil wawancara dengan
Bapak Pdt HI Saragih. Special guest, minggu depan juga tidak kalah serunya.
Pagi itu tepatnya pukul 7:35 , redaksi mengontak beliau dan sempat membalas
jawaban redaksi untuk diwawancarai. Namun wawancara baru bisa dimulai jam 14.14
Wib, setelah beliau baru pulang ke rumah dan batere HP sudah tidak lowbatt
lagi. Beliau adalah Bapak Pendeta Resort GKPS Surabaya dengan 2 orang anak
masing-masing: Hanna Priskila Saragih (Lala) dan Handerson Saragih (Eon) dengan
Istri br Purba.
Redaksi GKPS Surabaya berhasil mencatat point-point penting
tentang topik tersebut di atas, berikut penjelasan beliau menjawab beberapa
pertanyaan redaksi ”Kalau tentang perpuluhan itu bisa dibaca di Imamat
27:30-33, Bilangan 18:21-31 dan Matius 23:23. Beliau menjelaskan bahwa
perpuluhan itu merupakan hal yang wajib untuk perbendaharaan Tuhan. Ketika
redaksi menanyakan “Pak Pendeta, misalkanlah ini seaandainyalah kalau seseorang
itu jarang memberikan perpuluhan itu bagaimana? Beliau menjelaskan,” bagaimana
ya, kalau yang bukan kepunyaan kita, kita ambil gimana namanya ya. Perpuluhan
kan sebenarnya bukan untuk milik kita, gimana istilahnya tepatnya....jawab
sendirilah ya. Kemudian, pertanyaan dilanjutkan,…Pak Pendeta,”kalau misalnya
ini ada orang yang beranggapan bahwa berkat yang ia terima ialah berkatnya
sendiri ,sehingga ia tidak harus memberi perpuluhan? Beliau menjelaskan “Tentu
inilah kurangnya pemahaman kita, Maleakhi 3:6-12 menjelaskan “Tuhan pasti
membuka tingkap-tingkap langit”. Dan bila seandainya orang itu menyadari dan
bahkan membayar 2x lipat merupakan hal
yang baik..Tapi Firman Tuhan maksudnya di sini adalah rutin. Kapan kita panen
di situ kita memberi perpuluhan. Tapi
karena sudah banyak yang perbulan, bukan perpanen lagilah. Yang
menyadari kealpaannya dan di rubah tentu itulah yang diharapkan Tuhan. Misalkan
kalau belum bisa /tak ada apa-apa yang bisa diberikan sebagai perpuluhan………kalau
lebih pasnya kita hubungkan kepada persembahan seorang janda sarfat, yang
sebenarnya lebih banyak memberi daripada yang lainnya. Demikianlah hasil
wawancara dengan beliau terlepas dari pro kontra tentang pendapat orang yang
pasti Pak Pendeta dan kita semua menginginkan Kiranya nama Tuhan dimuliakan di
tempat yang maha Tinggi. Tuhan Yesus memberkati kita semua. (Redaksi GKPS
Surabaya/IHS)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar